Jumat, 15 November 2013
Batu Lumpang Ajaib Bisa Kembali Ke Tempat Semula Meski Dipindah Kemanapun.
JATISRONO – Di Dusun Nglumpang Desa Tanggulangin Kecamatan Jatisrono, Wonogiri terdapat dua buah batu berukuran cukup besar. Dinamakan Watu Lumpang (Batu Lumpang). Diperkirakan Batu Lumpang ini ada sejak empat abad silam, atau sekira 400 tahun yang lalu. Dukuh Nglumpang merupakan bagian dari wilayah Desa pemerintahan Desa Tanggulangin.
Masyarakat sekitar, meyakini Batu Lumpang ini bukan batu sembarangan. Tetapi Batu Lumpang ini mempunyai keunikan, dan kelebihan dibandingkan dengan batu batu lain, umumnya.Batu Lumpang itu sendiri -dulu- berfungsi sebagai tatakan (landasan) untuk menumbuk singkong kering alias gaplek, sehingga menjadi tepung lembut. Tepung gagplek itulah yang kemudian dikenal sebagai bahan baku thiwul.
Sejarahnya, Batu Lumpang itu awalnya adalah batu berukuran cukup besar. Lalu dipahat pada bagian tengahnya sehingga berlubang. Ukurannya kira kira dua pelukan tangan orang dewasa. Panjangnya kira kira dua meter. Memiliki ketinggian sekira 150 centimeter. Dulu, Batu Lumpang itu penting keberadaannya bagi masyarakat setempat.
Pada hari Jumat (14/6) pukul 11.30 WIB masih berada di Dusun Nglumpang. Batu Lumpang itu diletakkan di tepi jalan Dusun Nglumpang. Batu Lumpang tersebut diperlakukan istimewa, dibandingkan bebatuan lain yang berada di Dusun setempat. Batu Lumpang ini berada di dalam rumah atau semacam gubuk, yang sengaja dibangun untuk melindungi batu itu.
Tempat tinggal bagi Batu Lumpang itu dilengkapi dengan atap berbahan anyaman daun ilalang. Dinding gubuk tersebut berbahan baku kayu jati yang telah dipaku. Sehingga tampak kokoh dan aman. Pada bagian atasnya dipasangi anyaman bambu wulung. Kondisi itulah sepertinya yang membuat Batu Lumpang itu “dikeramatkan” oleh masyarakat setempat.
Kelebihan ketiga adalah Batu Lumpang ini merupakan ciri khas Dukuh (Dusun) Nglumpang. Batu Lumpang ini menyimpan sejarah dan cerita yang secara turun temurun melekat kuat di benak masyarakat setempat. “Dusun Nglumpang memang erat kaitannya dengan keberadaan dua bongkah batu yang berlobang itu. Batu yang satu, berada tepat di tengah jalan Desa. Satunya lagi di sebelah Barat rumah Diyono warga RT 01 RW 03,” tutur Pardi Sekdes Tanggulangin.
Sepengetahuan Pardi, Batu Lumpang tersebut merupakan peninggalan warga stempat yang bernama Sapu Anggin. Sapu Anggin adalah makhluk yang pertama menempati wilayah Nglumpang, sekitra 400 tahun silam. Batu Lumpang itu adalah bisa kembali ke tempat semula, meskipun dipindahkan kemanapun tanpa sepengetahuan manusia.
Danyangan Mbah Deder
JATISRONO - Kepercayaan masyarakat Jawa terhadap peninggalan-peninggalan nenek moyang relatif masih cukup kental. Salah satu peninggalan leluhur nenek moyang yang dianggap bernilai tinggi oleh masyarakat Wonogiri adalah Danyangan.
Di Wonogiri “Danyangan “ dianggap bernilai sejarah. Danyangan dinilai mempunyai pengaruh penting terhadap perkembangan adat istiadat masyarakat setempat. Bahkan sebagian orang menganggap “danyangan” mempunyai kekuatan magis. Sehingga sebagian orang memerlakukan berlebih terhadap keberadaan Danyangan tersebut.
"”
Namun tidak sedikit pula yang mengangap Danyangan adalah sesuatu yang biasa dan realistis saja. Orang yang berpikir realistis dan modern tentu takkan pernah terseret dan tersesat ke dalam kemusrikan. Masyarakat yang cerdas turut serta melestarikan alam, tak terkecuali turut menjaga “Danyangan” , demi menjaga ekosistem. Di Dusun Pelem RT 01 RW 01, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono terdapat sebuah Danyangan. Secara geografis, wilayah Desa Tanggulangin berbukit-bukit, membujur ke utara dan ke selatan yang dibatasi oleh sungai-sungai. Wilayah ini merupakan sekatan wilayah yang disebut Lungur. Lungur sebelah timur yaitu Lungur Pakel. Warga setempat, Sutris (70), kepada Info Wonogiri mengemukakan, Lungur ini dulu banyak ditanami pohon pakel atau pohon mangga. Di sini terdapat sebuah Danyangan. Di sekitar Danyangan terdapat sumber mata air yang melimpah dan jernih. Konon ceritanya, bila ada seorang pejabat yang lewat atau datang di sekitar Danyangan maka jabatan (pangkat ) orang tersebut akan turun. Sutris menceritakan, kali pertama Dusun ini ditempati oleh Ki Ageng Deder 400 tahun silam. Ki Ageng Deder biasa dipanggil Mbah Deder, tergolong suka berbuat jahat dan curang. Tempat itu disebut Danyangan Mbah Deder. Danyangan ini terdiri dari pepohonan asam, pohon bambu serta bebatuan. “Bila ada penjahat diburu warga, lari bersembunyi di Danyangan ini sehingga aman,” kata Pardi Sekertaris Desa setempat.
Namun tidak sedikit pula yang mengangap Danyangan adalah sesuatu yang biasa dan realistis saja. Orang yang berpikir realistis dan modern tentu takkan pernah terseret dan tersesat ke dalam kemusrikan. Masyarakat yang cerdas turut serta melestarikan alam, tak terkecuali turut menjaga “Danyangan” , demi menjaga ekosistem. Di Dusun Pelem RT 01 RW 01, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono terdapat sebuah Danyangan. Secara geografis, wilayah Desa Tanggulangin berbukit-bukit, membujur ke utara dan ke selatan yang dibatasi oleh sungai-sungai. Wilayah ini merupakan sekatan wilayah yang disebut Lungur. Lungur sebelah timur yaitu Lungur Pakel. Warga setempat, Sutris (70), kepada Info Wonogiri mengemukakan, Lungur ini dulu banyak ditanami pohon pakel atau pohon mangga. Di sini terdapat sebuah Danyangan. Di sekitar Danyangan terdapat sumber mata air yang melimpah dan jernih. Konon ceritanya, bila ada seorang pejabat yang lewat atau datang di sekitar Danyangan maka jabatan (pangkat ) orang tersebut akan turun. Sutris menceritakan, kali pertama Dusun ini ditempati oleh Ki Ageng Deder 400 tahun silam. Ki Ageng Deder biasa dipanggil Mbah Deder, tergolong suka berbuat jahat dan curang. Tempat itu disebut Danyangan Mbah Deder. Danyangan ini terdiri dari pepohonan asam, pohon bambu serta bebatuan. “Bila ada penjahat diburu warga, lari bersembunyi di Danyangan ini sehingga aman,” kata Pardi Sekertaris Desa setempat.
Pohon Jati Seharga 1 Milyar
INFOWONOGIRI.CO.ID – JATISRONO – Di Dusun Ngendram, Desa Tanggulangin Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wongoiri berdiri kokoh dua batang pohon jati super besar. Berdiameter kira kira lebih dari 150 Cm. Memiliki ketinggingian mencapai sekira 12 meter.
Pohon jati khas jawa ini tumbuh di tepi jalan di area sekitar makam Ki Ageng Sentono di desa setempat. Posisi tumbuhnya jati tersebut menguatkan keyakinan sejumlah orang akan kesan mistis pada kedua pohon jati itu. Menurut warga setempat, Sri -begitu panggilannya-, semula ada lima (5) batang pohon jati sejenis, di sekitar makam setempat. Tiga batang pohon di antaranya telah roboh.
Setali tiga uang, pernyataan dari Marsih Kepala Desa Tanggulangin, yang baru saja dilantik sebagai Kades. “Pohon jati ini erat kaitannya dengan sejarah Dusun Plumpang, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri,” kata Marsih perempuan paruh baya yang tampak ramah ini.
Sejarah berawal dari keberadaan tokoh masyarakat dan tokoh adat budaya setempat. Yakni Ki Ageng Sentono yang pertama tinggal di wilayah Dusun Plumpang Desa Tanggulangin Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri, kira kira pada 400 tahun silam. Pohon-pohon jati itu menjadi saksi bisu sejarah dibukanya Dusun Plumpang Desa Tanggulanging Kecamatan Jatisrono.
Awalnya, konon dulu ada lima batang bibit pohon jati yang ditanam di sekiar makam setempat, namun tidak ada yang mengetahui siapa penanamnya. Dalam perkembangannya dua batang pohon jati itu roboh tampa diketahui sebabnya. Kemudian batang pohon yang tumbang dibiarkan di lahan pekarangan sekira makam.
Dimungkinkan karena kehujanan dan kepanasan setiap hari selama bertahun tahun, akhirnya batang pohon jati itu menjadi tanah termakan usia. Tak tersisa. Sedangkan satu batang pohon jati ditebang dan dijual kepada warga Wonogiri Kota, namun dalam perjalanan sampai di Jatisrono kendaraan truk pengangkut jati tersebut, mengalami mogok mesin, dan tidak bisa jalan tampa diketahui apa kerusakan mobil itu. Menurut ceritanya batang kayu jati itu meminta dikembalikan ke asalnya. Kono kayu jati itu tidak mau dijual.
Ada seorang penggemar kayu jati jawa asal Semarang yang berminat membeli dari Semarang. Ia berani menawar satu batang pohon jati itu seharga Rp.1 Miliar. Akan tetapi warga tidak berani meng-iyakan. “Berapapun harga yang diberikan warga tetap tidak berani,” pungkas Marsih.
Kini di sekitar makam tersebut terdapat dua batang pohon jati yang masih berdiri kokoh seperti berotot. Batang pangkalnya sangat besar. Tampak gagah perkasa. Berdaun lebat meneduhkan suasana area makam.
Makam tersebut adalah pesarean (tempat tidur panjang) Ki Ageng Sarpo Sentono. Al Marhum Ki Ageng Sarpo Sentono meninggal dan dimakamkan pada 26 Jumadilakhir 1927 Hijriyah, atau bertepatan dengan tanggal 28 Oktober 1997 Masehi. Salah satu keturunan Ki Ageng Sarpo Sentono adalah keluarga besar Sutino yang kini tinggal di Pasar Lawas Kecamatan Jatisrono.
RUMAH TIBAN DESA SEMEN
INFOWONOGIRI.CO.ID – JATISRONO – Desa berada di paling timur di wilayah Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Posisinya berbatasan dengan wilayah Kecamatan Slogohimo. Di Desa setempat, tepatnya di RT 02 RW 03 terdapat rumah tiban. Sinem (83) yang sehari-hari biasa dipanggil Mbok Darno adalah juru kunci rumah tiban saat ini.
Mbok Darno bersama suaminya Darno sudah menjadi generasi ke tiga yang mewarisi sebagai penunggu rumah tiban itu. Kini Mbok Darno tinggal seorang diri, suaminya telah meninggal dunia setahun yang lalu pada usia 98 tahun. Rumah yang dikeramatkan di Desa Semen ini sudah ada sejak 400 tahun atau 4 abad silam.
Mbok Darno meneritakan, rumah ini merupakan peninggalan Wali Songgo. Sehingga disebut rumah tiban. Atapnya terbuat dari daun alang-alang yang tumbuh di pekarangan belakang rumah. Terdapat 4 tiang rumah (soko/cagak) ini yang paling keramat dan sama sekali belum pernah di ganti, warna kayunya hitam tapi ke empatnya di bungkus dengan kain warna putih.
Menurut Kasinem (73) warga setempat, mengatakan tempat ini angker. Bila daun alang-alang itu dipakai untuk atap selain rumah tiban maka penghuninya akan mati. Begitupun bila daun alang-alang ini diberikan untuk pakan ternak, maka hewan ternaknyapun akan mati. Mbok Darno memiliki 10 anak, 5 putri dan 5 putra: Wiwik, Tarmi, Sarjumi, Prihati, Partu, Warto, Sumar, Prihatin, Suryatin, Parti dan 5 orang cucu.
Tamu-tamu yang datang berkunjung ada yang dari Semarang, Ponorogo, Solo dan dari kota kota lainnya. Rumah tiban biasanya ramai di padati tiap malam Jum,at tiba. Tujuan para tamu yaitu mempunyai permintaan, keinginan dan kebutuhan dengan meminta dan memohon di sini agar dapat terwujud.
Langganan:
Postingan (Atom)